
Sebagian besar, hampir 120 orang petani di Desa Pakraman Guliang Kangin menjadikan tanaman bunga pacah sebagai tanaman sampingan setelah menanam padi. Dari 63 hektar hamparan persawahan, hampir 20 hektar ditamani bunga, oleh sebagian besar petani.
Faktor penyebab beralihnya petani ke tanaman holtikultura ini, adalah hasilnya yang men janjikan dan dapat dipetik setiap hari, sehingga jika petani bisa mengatur masa tanam, maka setiap hari hasil penjualan bunga ini dapat memenuhi kebutuhan sehari – hari petani.Disamping itu, semakin kecilnya debit air, menyebabkan petani harus melek setiap hari untuk mendapatkan air. Jika menanam bunga, maka kebutuhan air tidak sebanyak menanam padi.
Setiap hari, mulai pk. 03.00 Wita para petani ini sudah mendistribusikan bunga-bunganya ke Pasar Gianyar. Ada juga yang membawanya sampai ke Klungkung, bahkan Denpasar.
Akibat banyaknya petani yang memasok bunga ke Pasar Gianyar, sehingga volume pasokan petani Guliang Kangin, telah mempengaruhi harga bunga di pasar. Bahkan, sebagian pengepul sampai-sampai menyebut dengan sebutan “Bunga Guliang”.
Dari sisi ekonomi, penghasilan tambahan petani dari sektor holtikultura ini, ternyata banyak membantu perkembangan ekonomi di pedesaan. Hal ini juga menyebabkan kini banyak anak muda Desa Pakraman Guliang Kangin terjun sebagai petani bunga.
Dan setelah Bunga Guliang, kini petani di sini segera akan mencoba melon kultivar Gama Melon, yang dikembangkan oleh Bidang Genetika Fakultas Biologi UGM Jogjakarta, jika berhasil akan ada istilah lagi “Melon Guliang”. Semoga….