• Desa Adat Guliang Kangin
  • 08123666676
  • guliangkangin.desa@gmail.com

Ngembak Geni Media Memupuk Persaudaraan Umat Hindu

11 Maret 2016 Administrator Tradisi dan Budaya Dibaca 351 Kali

Dalam setiap upacara yang dilakukan terkandung berbagai tujuan yang hendak dicapai. Apalagi upacara yang dimaksud bertema dan mengandung pesan keagamaan. Upacara Ngembak Geni yang kerap dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali digelar untuk bersembahyang dan memanjatkan doa kepada Sanghyang Widhi Wasa supaya diberikan kemudahan dan kebaikan sehingga bisa kembali menjadi manusia yang baru.
Ditinjau dari etimologi, Ngembak berasal dari bahasa setempat yang memiliki makna “bebas” dan Geni artinya ialah api. Sehingga “Ngembak Geni” bermakna bebas dalam menyalakan api. Dalam artian yang lebih luasnya, Ngembak Geni berarti terbebas dan dipersilakan kembali untuk melakukan berbagai macam aktifitas seperti sedia kala. Hal ini dimaksudkan karena ketika Upacara Nyepi dilakukan seluruh aktifitas masyarakat Hindu dihentikan dan baru diperbolehkan untuk aktifitas kembali setelah hari raya besar itu selesai.

Beberapa aktifitas yang tidak diperbolehkan ketika Hari Raya Nyepi seperti sebagai berikut;
– Amati Karya, artinya bahwa tidak boleh melakukan aktifitas jasmani, sebaliknya diwajibkan hanya melakukan kegiatan rohani seperti bersembahyang.
– Amati Geni, tidak boleh menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
– Amati Lelungaan, tidak boleh bepergian melainkan harus senantiasa melakukan mawas diri.
– Amati Lelanguan, tidak boleh mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan fikiran hanya terfokus kepada Sanghyang Widhi Wasa.

Nah, selepas menjalankan Nyepi, keesokan harinya Hindu Bali mengadakan Ngembak Geni. Dan setelah selesai, maka akan dilakukan Dharma Santi atau bersilaturahim saling memaafkan, di lingkungan keluarga, teman, saahabat. Selepas itu, baru diperbolehkan untuk melakukan aktifitas kembali. Ngembak Geni merupakan salah satu tahapan dalam pelaksanaan hari raya Nyepi, adapun tahapan tersebut sebagai berikut :
– Tahap pertama Melasti, yaitu membuang mala dalam upaya mensucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
– Tahap kedua Tawur, yaitu caru yang bertujuan mengharmoniskan Tri Hita Karana.
– Tahap ketiga Sipeng, yaitu menggelar tapa-berata-yoga-samadi.
– Tahap keempat Ngembak Geni, yaitu mengakhiri tapa-berata-yoga-samadi, dan ber Dharma Santi dalam bentuk saling berkunjung dan saling memaafkan.
– Tahap kelima adalah nunas tirta amertha pada Purnama Kadasa, di saat mana Ida Sanghyang Widhi memberkati dunia dan isinya agar sejahtera menghadapi tahun yang akan datang. (dari berbagai sumber).

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)
Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)
CAPTCHA Image
Isikan kode di gambar